Pages

Kamis, 29 Maret 2012

0 Tipe-Tipe/Jenis Berpikir Matematis


a.      Berpikir matematis terkait karakter matematika

1.                                                                Berpikir dengan memiliki objek kajian yang abstrak

Matematika  mempunyai  objek  kajian  yang  bersifat  abstrak,  walaupun  tidak setiap   objek   abstrak   adalah   matematika (Sumardyono, 2004).   Sementara   beberapa   matematikawan menganggap objek matematika itu "konkret" dalam pikiran mereka, maka kita dapat menyebut  objek  matematika  secara  lebih  tepat  sebagai  objek  mental  atau  pikiran. Ada  empat  objek  kajian  matematika,  yaitu  fakta,  operasi  (atau  relasi),  konsep,  dan prinsip.

i.      Fakta
Fakta adalah pemufakatan atau konvensi dalam matematika yang biasanya diungkapkan lewat simbol tertentu (Suherman, dkk., 2001). Cara   mempelajari   fakta   bisa  dengan   cara   hafalan,   drill   (latihan   terus- menerus), demontrasi  tertulis,  dan  lain-lain.  Namun  perlu  dicamkan  bahwa mengingat  fakta  adalah  penting  tetapi  jauh  lebih  penting  memahami  konsep yang diwakilinya. Mengutip istilah Skemp, arti atau konsep yang diwakili oleh simbol  disebut  deep  structure  (struktur  dalam),  sementara  bentuk  simbol  itu sendiri merupakan surface strukture (struktur muka).
Rubenstein & Thompson Menyatakan: In  general,  teachers  must  be  aware  of  the  difficulties  that  symbolism creates for students. Symbolism is a form of mathematical language that is compact,  abstract,  specific,  and  formal.  ¼  .  Therefore,  opportunities  to use  that  language  should  be  reguler,  rich,  meaningful,  and  rewarding (Sumardyono, 2004).
(Secara  umum,  guru  harus  menyadari  kesulitan-kesulitan  tentang  simbol bagi siswa. Simbolisme merupakan bentuk bahasa matematika yang rapi, abstrak,    khusus,    dan    formal    ¼    Dengan    demikian,    kesempatan menggunakan  bahasa  tersebut  seharusnya  secara  bertahap,  kaya,  penuh arti, dan bermanfaat).
Dengan demikian dalam memperkenalkan simbol atau fakta matematika kepada siswa, guru seharusnya melalui beberapa tahap yang memungkinkan siswa dapat menyerap makna dari simbol-simbol tersebut. Penggunaan   simbol   seharusnya   secara   informal   pada   tahap   awal,   untuk membantu  anak  tetap  pada  pola  dan  hubungan  yang  dapat  mereka pahami.
Contoh (SD) (contoh-contoh fakta)
Simbol "2" secara umum telah dipahami sebagai simbol untuk bilangan dua. Sebaliknya    bila    kita    menghendaki    bilangan    dua,    cukup    dengan menggunakan  simbol  "2".Fakta  yang  lain  dapat  berupa  gabungan  dari beberapa  simbol,  seperti  "3  +  2" yang  dipahami  sebagai  "tiga  ditambah dua", "2 × 3" yang dipahami sebagai "dua kali tiga" yang tentunya berbeda dengan simbol "3 × 2", "3 × 4 = 12" yang dipahami sebagai "tiga kali empat sama  dengan  dua  belas",  "2  <  3"  yang  dipahami  sebagai  "dua  lebih  kecil dari tiga”.
Contoh  (SMP, SMA) (contoh-contoh fakta yang komplek)
Yang   agak   komplek   fakta   seperti   "p   »   3,14"   yang   dipahami   sebagai bilangan  pi  mendekati  tiga  koma  satu  empat",    "23   =  2  ×  2  ×  2"  yang dipahami  sebagai  "dua  pangkat  tiga  sama  dengan  dua  kali  dua  kali  dua". Dalam  geometri  juga  terdapat  simbol-simbol  tertentu,  seperti  "" yang berarti "tegak lurus", simbol "//" yang berarti "sejajar".  Dalam trigonometri kita kenal symbol "" yang berarti "sudut", simbol "∆" yang menunjukkan "segitiga",    juga    yang    agak    komplek    seperti    "sin"    yang    berarti "perbandingan   atau   fungsi   sinus".      Dalam   aljabar,   simbol      "(a,   b)" menunjukkan  "pasangan  berurutan",  simbol  "ƒ"  yang  dipahami  sebagai "fungsi", dan masih banyak lagi.

ii.    Konsep
Konsep  adalah  idea  abstrak  yang  dapat  digunakan  untuk  menggolongkan atau mengkategorikan  sekumpulan  objek,  apakah  objek  tertentu  merupakan contoh konsep atau bukan (Sumardyono, 2004).
Contoh  (SD, SMP, SMA)
"Segitiga"     adalah nama  suatu  konsep.  Dengan  konsep  itu  kita  dapat membedakan mana yang merupakan contoh segitiga dan mana yang bukan contoh  segitiga.  "Bilangan  prima"  juga  nama  suatu  konsep,  yang  dengan konsep  itu  kita  dapat  membedakan  mana  yang  merupakan  bilangan  prima dan mana yang bukan. Konsep "bilangan prima" lebih komplek dari konsep "segitiga" oleh karena di  dalam konsep "bilangan prima"  memuat konsep-konseplain seperti  "faktorisasi",  "bilangan",  "satu",  dan  lain-lain. Di samping   itu,   dalam matematika   terdapat   konsep-konsep   yang    penting, seperti "fungsi" dan "variabel". Selain itu terdapat pula konsep-konsep yang lebih   komplek,   seperti   "matriks", "determinan",   "periodik",   "gradien", "vektor", "group", dan "bilangan pi".
Konsep dapat dipelajari lewat definisi atau observasi langsung. Siswa telah dianggap memahami konsep bila ia dapat memisahkan contoh konsep dari yang bukan contoh konsep

iii.  Operasi dan Relasi
Operasi   adalah   pengerjaan   hitung,   pengerjaan   aljabar,   dan   pengerjaan matematika  lainnya.  Sementara  relasi  adalah  hubungan  antara  dua  atau  lebih eleman (Sumarrdyono, 2004).
Contoh  (SD, SMP) (contoh operasi dan relasi)
Contoh  operasi  antara  lain: "penjumlahan",  "perpangkatan",  "gabungan", "irisan",  dan  lain-lain.  Sedang  relasi  antara lain:  "sama  dengan",  lebih kecil", dan lain-lain.
Pada  dasarnya  operasi  dalam  matematika  adalah  suatu  fungsi  yaitu  relasi khusus,  karena operasi  adalah  aturan  untuk  memperoleh  elemen  tunggal  dari satu   atau   lebih   elemen  yang   diketahui.  Semesta   dari   elemen-elemen   yang dioperasikan dengan elemen yang diperoleh dari operasi tersebut bisa sama bisa pula berbeda. Elemen yang dihasilkan dari suatu operasi disebut hasil operasi.
Dalam matematika dikenal bermacam-macam operasi, yaitu operasi "unair" bila melibatkan   hanya   satu   elemen   yang   diketahui,   operasi   "biner" bila melibatkan  tepat  dua elemen  yang  diketahui,  operasi  "terner"  bila  melibatkan tepat tiga elemen yang diketahui.
Contoh  (SD, SMP, SMA) (contoh jenis operasi)
Operasi "penjumlahan", "perkalian", "gabungan", "irisan" termasuk contoh operasi    biner,    sementara    operasi    "pangkat    dua", "tambah    lima", "komplemen" termasuk contoh-contoh operasi unair.
Operasi  seringkali  juga  disebut  sebagai  "skill"  (keterampilan),  bila  yang ditekankan adalah  keterampilannya.  Keterampilan  ini  dapat  dipelajari  lewat demonstrasi,   drill, dan   lain-lain.   Siswa   dianggap   telah   menguasai   suatu keterampilan  atau  operasi bila  ia  dapat  mendemonstrasikan  keterampilan  atau operasi tersebut dengan benar

iv.  Prinsip
Prinsip adalah objek matematika yang komplek, yang terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi atau pun operasi. Secara sederhana  dapatlah  dikatakan  bahwa  prinsip  adalah  hubungan  antara  berbagai objek dasar matematika. Prinsip dapat berupa "aksioma", "teorema" atau "dalil", "corollary" atau "sifat", dan sebagainya.
Contoh (SD, SMP, SMA)
Sifat komutatif dan sifat asosiatif dalam aritmetika merupakan suatu prinsip. Begitu  pula  dengan  Teorema  Pythagoras.   Contoh  sebuah  aksioma  antara lain "melalui satu titik A di luar sebuah garis   g   dapat dibuat tepat sebuah garis yang sejajar garis g".
Siswa  dapat  dianggap  telah  memahami  suatu  prinsip  bila  ia  memahami bagaimana  prinsip  tersebut  dibentuk  dan  dapat  menggunakannya  dalam  situasi yang  cocok.  Bila,  demikian  berarti  ia  telah  memahami  fakta,  konsep  atau definisi, serta operasi atau relasi yang termuat dalam prinsip tersebut.

2.                                                                Berpikir bertumpu pada kesepakatanq
Simbol-simbol dan istilah-istilah dalam matematika merupakan kesepakatan atau konvensi  yang  penting (Suherman, dkk., 2001). Dengan  simbol  dan  istilah  yang  telah  disepakati  dalam  matematika  maka  pembahasan  selanjutnya  akan menjadi  mudah  dilakukan  dan dikomunikasikan.
Contoh  (SD, SMP, SMA)
Lambang   bilangan   yang   digunakan   sekarang:   1,   2,   3,   dan   seterusnya  merupakan contoh sederhana sebuah kesepakatan dalam matematika. Siswa  secara  tidak  sadar  menerima  kesepakatan  itu  ketika  mulai  mempelajari tentang angka atau bilangan. Termasuk pula penggunaan kata "satu" untuk lambang "1" , atau "sama dengan" untuk "" merupakan kesepakatan.
Contoh (SMP, SMA)
Istilah    "fungsi"    kita    batasi    pengertiannya    sebagai    pemetaan    yang mengawankan  setiap  elemen  dari himpunan  yang  satu  ke  tepat  sebuah elemen  di  himpunan  yang  lain.  Mengapa  harus  menggunakan  kata  "tepat satu"? Penggunaan kata "tepat satu" merupakan contoh kesepakatan dalam matematika. Bila ada pemetaan yang benilai ganda, kita tidak menyebutnya sebagai fungsi.
Dalam matematika,  kesepakatan atau  konvensi merupakan  tumpuan  yang  amat penting.  Kesepakatan  yang amat  mendasar  adalah  aksioma  (postulat,  pernyataan pangkal yang tidak perlu pembuktian) dan konsep primitive (pengertian pangkal yang tidak   perlu   didefinisikan,   undefined   term).      Aksioma   yang   diperlukan   untuk menghindari  berputar-putar  dalam  pembuktian  (circulus  in  probando).  Sedangkan konsep  primitif  diperlukan untuk  menghindari  berputar-putar  dalam  pendefinisian (circulus in definiendo).
Aksioma dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis; (1) aksioma yang bersifat "self  evident truth", yaitu bila kebenarannya langsung terlihat dari pernyataannya, dan (2) aksioma  yang  bersifat  "non-self  evident  truth",  yaitu pernyataan  yang  mengaitkan fakta dan konsep lewat suatu relasi tertentu. Bentuk terakhir ini lebih terlihat sebagai sebuah kesepakatan saja.
Beberapa  aksioma  dapat  membentuk  suatu  sistem  aksioma,  yang  selanjutnya dapat  menurunkan  beberapa teorema.  Dari  satu  atau  lebih  konsep  primitif  dapat dibentuk konsep baru melalui pendefinisian.
Contoh (SMP, SMA) (contoh pengertian pangkal dan aksioma)
Titik,  garis,  dan  bidang  merupakan  unsur-unsur  primitif  atau  pengertian pangkal dalam geometri euclid. Sementara salah satu aksioma di dalamnya adalah: "melalui dua buah titik ada tepat satu garis lurus yang dapat dibuat".
Contoh (SMA) (contoh sistem aksioma)
Group  didefinisikan  lewat  sistem  aksioma.  Suatu  himpunan  G  dengan operasi biner*   yang memenuhi (1) tertutup, (2) asosiatif, (3) mempunyai unsur  identitas,  dan  (4)  tiap  eleman  memiliki  invers,  disebut  suatu  group, dan ditulis (G,*).   Aksioma tersebut bersifat non-self evident truth.

3.                                                                Berpikir berpola pikir deduktif
Dalam matematika  hanya diterima  pola  pikir yang  bersifat deduktif (Suherman, dkk., 2001).  Pola  pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus. Pola pikir deduktif ini dapat terwujud dalam bentuk yang amat sederhana tetapi juga dapat terwujud dalam bentuk yang tidak sederhana.
Contoh generalisasi yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan dalam maematika. Generalisasi yang dibenarkan dalam metematika adalah generalisasi yang telah dapat dibuktikan secara deduktif.
Contoh
Jumlah dua buah bilangan ganjil adalah bilangan genap
 

     +          1          -3         5          7
     1          2          -2         6          8
     -3         -2         -6         2          4
     5          6          2          10        12
     7          8          4          12        14
Dari tabel penjumlah ini, jelas bahwa setiap dua bilangan ganjil jika dijumlahkan hasilnya selalu genap. Dalam matematika tidak dibenarkan membuat generalisasi atau membuktikan dengan cara demikian. Walaupun anda menunjukkan sifat itu dengan mengambil beberapa contoh yang lebih banyak lagi, tetap kita tidak dibenarkan membuat generalisasi yang mengatakan bahwa jumlah dua bilangan ganjil adalah genap, sebelumnya kita membuktikannya secara deduktif.
Misalkan secara deduktif sebagai berikut: Andaikan m dan n adalah sembarang dua bilangan bulat, maka 2m+1 dan 2n+1 tentunya masing-masing merupakan bilangan ganjil. Jika kita jumlahka:
(2m+1)+(2n+1) = 2(m+n+1)
Karena m dan n bilangan bulat, maka (m+n+1) bilangan bulat, sehingga 2(m+n+1) adalah bilangan genap. Jadi jumlah dua buah bilangan ganjil selalu genap.
                                                                                                              

4.                                                                Berpikir konsisten dalam sistemnya
Dalam matematika terdapat berbagai macam sistem yang dibentuk dari beberapa aksioma dan memuat beberapa teorema. Ada sistem-sistem yang berkaitan, ada pula sistem-sistem yang dapat dipandang lepas satu dengan lainnya. Sistem-sistem aljabar dengan sistem-sistem geometri dapat dipandang lepas satu dengan lainnya. Di dalam sistem aljabar terdapat pula beberapa sistem lain yang lebih "kecil" yang berkaitan satu dengan lainnya. Demikian pula di dalam sistem geometri.
Contoh 41 (SMP, SMA) (contoh sistem aksioma)
Di dalam aljabar terdapat sistem aksioma dalam grup, sistem aksioma dalam ring,   sistem   aksioma   dalam   lapangan   (field),   dan   lain-lain.   Di   dalam geometri terdapat sistem geometri netral, sistem geometri insidensi, sistem geometri Euclides, sistem geometri Lobachevski, dan lain-lain.
Di  dalam masing-masing sistem berlaku  ketaatazasan atau  konsistensi. Artinya bahwa dalam setiap sistem tidak boleh terdapat kontradiksi. Suatu teorema atau pun definisi  harus   menggunakan   istilah   atau  konsep   yang  telah   ditetapkan   terlebih dahulu. Konsistensi itu baik dalam makna maupun dalam hal nilai kebenarannya.
Antara sistem atau struktur yang satu dengan sistem atau struktur yang lain tidak mustahil terdapat pernyataan yang saling kontradiksi.
Contoh (SMA) (Dua sistem yangmemilikipernyataan yang berbeda)
Contoh   berikut   sangat   terkenal   dalam   matematika.   Di   dalam   sistem geometri  Euclid  (geometri  "datar",  yaitu  geometri  yang  biasa  dipelajari  di sekolah)  dikenal  teorema  berikut  ini.  "Jumlah  besar  sudut-sudut  sebuah segitiga  adalah  seratus  delapan  puluh  derajat".  Sementara  di  dalam  sistem geometri  Riemann  (geometri  "lengkung  bola",  salah  satu  sistem  geometri non-euclides),  salah  satu  teorema   berbunyi.  "Jumlah  besar  sudut-sudut sebuah segitiga lebih (besar) dari seratus delapan puluh derajad".

5.                                                                Berpikir dengan memahami simbol yang kosong dari arti
Di  dalam  matematika  banyak  sekali  terdapat  simbol  baik  yang  berupa  huruf  Latin, huruf Yunani, maupun simbol-simbol khusus lainnya. Simbol-simbol tersebut membentuk kalimat  dalam  matematika  yang  biasanya  disebut  model  matematika. Model matematika dapat berupa persamaan, pertidaksamaan, maupun fungsi. Selain itu  ada  pula  model matematika  yang  berupa  gambar  (pictorial)  seperti  bangun- bangun geometrik, grafik, maupun diagram.
Contoh (SMP, SMA) (simbol yang kosong dari arti)
Model matematika, seperti  x + y= z   tidak selalu berarti bahwa  x, y, dan z berarti bilangan.  Secara sederhana, bilangan-bilangan yang biasa digunakan dalam pembelajaran pun bebas dari arti atau makna real. Bilangan tersebut dapat  berarti  panjang,  jumlah  barang,  volum,  nilai  uang,  dan  lain-lain tergantung pada konteks di mana bilangan itu diterapkan. Bahkan   tanda "" tidak selalu berarti operasi tambah untuk dua bilangan, bisa jadi operasi untuk vektor, matriks, dan lain-lain.
Jadi secara umum, model/simbol matematika sesungguhnya kosong dari arti. Ia akan  bermakna  sesuatu  bila  kita  mengkaitkannya  dengan  konteks  tertentu.  Secara umum,  hal  ini  pula  yang  membedakan  simbol  matematika  dengan  simbol  bukan matematika.    Kosongnya    arti    dari    model-model    matematika    itu    merupakan "kekuatan"  matematika,  yang  dengan  sifat tersebut  ia  bisa  masuk  pada  berbagai macam bidang kehidupan, dari masalah teknis, ekonomi, hingga ke bidang psikologi.
Walaupun demikian, kebanyakan siswa masih cukup kuat terikat dengan makna yang  pertama  kali  atau  yang  biasa  diajarkan  oleh  gurunya.  Hal  ini  seperti  yang pernah   dikeluhkan   oleh   matematikawan   Whitehead,   "Yang   paling   sukar   untuk menjelaskan kepada seseorang yang baru belajar matematika ialah bahwa x itu sama sekali  tidak  berarti".  (Sumardyono, 2004).    Maka  dari  itu,  guru  harus  senantiasa waspada  pada  pengertian  yang  dipakai  oleh  siswa  dalam  mempelajari  suatu  topik bahasa matematika.

6.                                                                Berpikir dengan memperhatikan semesta pembicaraan

Sehubungan  dengan  kosongnya  arti  dari  simbol-simbol  matematika,  maka  bila kita menggunakannya kita seharusnya memperhatikan pula lingkup pembicaraannya. Lingkup  atau  sering  disebut  semesta  pembicaraan  bisa  sempit  bisa  pula  luas.  Bila kita berbicara tentang bilangan-bilangan, maka simbol-simbol tersebut menunjukkan bilangan-bilangan   pula.   Begitu   pula   bila   kita   berbicara   tentang   transformasi geometris (seperti translasi, rotasi, dan lain-lain) maka simbol-simbol matematikanya menunjukkan suatu transformasi pula. Benar  salahnya  atau  ada  tidaknya  penyelesaian  suatu  soal  atau  masalah,  juga ditentukan  oleh  semesta pembicaraan  yang digunakan.  Berikut  ini  beberapa  contoh sederhana.
Contoh (SD, SMP) (contoh penggunaan lingkup pembicaraan)
Dalam  semesta  himpunan  bilangan  bulat,  terdapat  model   2x  =  3.  Adakah penyelesaiannya?   Bila   diselesaikan   seperti   biasa,   tanpa   menghiraukan semesta  pembicaraanya,  maka diperoleh    x  =  1,5.    Tetapi    1,5    bukan bilangan  bulat.  Jadi  dalam  hal  ini  dikatakan  bahwa  model  tersebut  tidak memiliki  penyelesaian  dalam  semesta  pembicaraan  bilangan  bulat.  Atau sering dikatakan penyelesaiannya adalah "himpunan kosong".Dalam semesta pembicaraan vektor di bidang datar,  terdapat model      a + b  = x Di sini jelas bahwa huruf-huruf tersebut tidak berarti bilangan, tetapi harus berarti suatu vektor. Dalam hal ini bila vektor a dan b  telah diketahui maka  kita  dapat  menentukan  vektor  x  dengan  berbagai  cara,  salah  satunya secara geometris seperti di bawah ini.


Sumber:
Suherman, Erman, dkk. 2001.Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia
Sumardyono. (2004). Karakteristi Matematika dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

About the Author

I'm Dilipkumar, the founder of Wordpresstoblogger.info. This blogger Template was made by me, if you like it Subscribe to Our Feed and Follow Me on Twitter Wptoblogger

    Other Recommended Posts

0 komentar:

Posting Komentar

 
back to top